Mungkinkah Google+ Membuat Kendali Baca/ Tulis terhadap API miliknya?

Image

Tergantung kepada siapa kita mengajukan pertanyaan tersebut. Google+ dapat kita pandang sebagai jaringan sosial yang tengah berkembang dan tulang punggung yang paling penting dari upaya sosial Google, ataupun sebagai gurun sepi di mana sebuah kelompok kecil dari penggemar terus berupaya menjalankan aktifitas jaringan sosialnya disana. Memang Saya cenderung berpikir jika apa yang dilakukan oleh google saat ini akan tetap membuatnya baik-baik saja, tapi saya juga tahu dan menyadari bahwa saya mungkin akan menggunakannya jauh lebih sering jika saya bisa menggunakan klien desktop tersendiri (dan mungkin salah satunya yang meng-Integrasikan Twitter, Facebook dan Google +) untuk membaca dan memposting update kedalam profil saya. Namun biar bagaimanapun Google, tetap menolak untuk meluncurkan kendali penuh Baca/Tulis terhadap API untuk Google+.

Pada I/O awal tahun ini, juru bicara Google mengatakan bahwa mereka tidak ingin “mengganggu sesuatu yang sangat istimewa” dan “ajaib” dengan membiarkan aplikasi pihak ketiga untuk melakukan kendali Baca/Tulis atau memposting apapun kedalam google+. Google sepertinya ingin menghindari adanya auto-posting update berita, lintas-posting tweet, dan pembaruan lain yang dianggap Google memiliki nilai pengalaman yang rendah bagi para penggunanya. Google juga tampaknya ingin menjaga kontrol penuh atas pengalaman pribadi pengguna Google+. Meskipun beberapa aplikasi seperti Hootsuite dan Engage121 telah masuk daftar putih sehingga memungkinkan mereka untuk posting ke Google+, namun tetap saja hingga saat ini tidak ada satupun aplikasi consumer umum yang dapat secara langsung berinteraksi dengan Google+ tanpa masuk ke situsnya terlebih dahulu.

Tentu saya sadar akan adanya tombol Google+, aplikasi dasar untuk membaca API dan API Hangouts bagi mereka yang ingin menjalankan video chatting dan juga beberapa aplikasi lainnya. Namun tidak seperti Twitter, yang meskipun baru-baru ini sempat bermasalah dengan beberapa pengembang masih memungkinkan bagi layanan aplikasi pihak ketiga yang menarik untuk berjalan diatasnya. Untuk hal ini Google+ terlihat masih sangat kurang. Contohnya jika saya ingin memposting sebuah gambar dari ponsel saya, saya harus menggunakan aplikasi Google+, tidak dapat menggunakan instagram atau aplikasi lainnya. Jika saya ingin memposting update, maka saya juga harus menggunakan aplikasi Google+. Sementara banyak aplikasi yang dapat melakukannya dengan lebih baik. karena hal inilah saya sangat yakin, bahwa kita akan melihat lebih banyak inovasi dan pengalaman penggunaan Google+ yang jauh lebih baik, jika saja Google mempermudah pengembang aplikasi untuk benar-benar mulai menggunakannya sebagai sebuah platform.

Pada I/O pertengahan tahun kemarin, Google secara diam-diam meluncurkan Google+ History API untuk berbagi hal-hal pribadi ke dalam profil Google+ yang kita miliki setelah sebuah kejadian berlangsung. Namun hingga tulisan ini dibuat tidak pernah terdengar adanya aplikasi populer atau layanan web yang menggunakan API ini. Sepanjang 2012, tim Google+ selalu mengatakan tidak akan merilis penuh sebuah API sampai yakin segalanya akan berjalan dengan benar. Sehingga tidak perlu, sampai harus membuat perubahan besar di kemudian hari yang ujung-ujungnya akan membuat marah dan mengecewakan pengembang aplikasi pada platformnya seperti yang dilakukan oleh Twitter pada tahun ini. Hal ini memang akan membutuhkan waktu untuk membuktikan kebenarannya, meskipun, seiring dengan berjalannya waktu, argumen ini secara perlahan terus kehilangan kekuatannya.

Mungkin salah satu hal berikut ini dapat mengungkapkan kenyataan bahwa blog pengembang Google+ (“Sumber resmi informasi tentang platform Google+”) hanya diperbarui dua kali sejak I/O akhir tahun kemarin. Supaya adil, sebenarnya tim secara teratur memposting di Google+, tapi jelas tidak banyak update besar yang dilakukan pada platform ini diparuh kedua tahun 2012. Google sepertinya, tidak terlalu tertarik untuk mengubah Google+ menjadi sebuah platform. Sebaliknya, ingin agar tetap dikelola sendiri secara ketat dan sebaik mungkin.

Hal ini membuat Saya sering menganalogikan mengenai Google+ sebagai komunitas berdinding dengan mengasosiasikan pemilik rumah sebagai orang sombong (berdasarkan cerita yang saya baca di sini tahun kemarin) yang ingin memastikan agar rumput dipekarangan yang Kita miliki dipotong dengan sempurna dan bendera yang menggantung di luar rumah tidak menyinggung siapa pun. Hal ini memang memang membuat aman perasaan Kita untuk membiarkan anak-anak bermain-main dijalanan yang ada disana, tetapi juga membuatnya sedikit membosankan. Hal inilah tampaknya yang sedang diperjuangkan oleh masyarakat IT di Google, namun tetap saja saya tidak dapat menolong (“Siapa sih gue (_ _!)”) tapi hal ini terus mengganjal pikiran saya, andai saja Google membuka gerbang sedikit lebih lebar bagi pengembang pihak ketiga dan membiarkan mereka berinovasi di atas platform Google+,tentunya jaringan sosial itu sendiri akan dengan cepat menjadi jauh lebih menarik, iya kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: