Belajar dan Kemauan Diri

Aku akan tetap belajar meskipun banyak rintangan menghadang

Aku tetap belajar, meskipun banyak rintangan menghadang

Belajar adalah aktivitas dengan melakukan apa pun. Membaca, mengamati, dan merenung, adalah kegiatan yang mengatasnamakan kepentingan mengasah nurani dan akal. Dengan sendirinya manusia mengasah kepekaan dalam ruang lingkup niat, bahasa, dan Perbuatan. Itu adalah konsep belajar. Kegiatan ini mengantarkan setiap orang menggali ilmu. Kemauan itu bisa dimulai kapanpun dan dimanapun. Belajar adalah meningkatkan inteleklualitas di tengah-tengah persaingan antar manusia. Hidup dengan belajar adalah hidup dengan kemauan.

Bila Si Budi gagal dalam menghadapi ujian, bila Si Citra terpuruk dalam kehidupannya, bisa dikatakan bahwa mereka tidak “belajar”. Mereka tidak melihat hidup daiam persoalan yang harus dihadapi dengan sekian konsekwensi. Mereka tidak menyiapkan diri secara fisik, mental, dan spiritual. Hidup dibayangkan dengan menganggap setiap hal itu gampang dan sepele. Selalu terbuka kenyataan bahwa kekalahan, ketidakberhasilan, dan lain-lain, menyangkut seberapa jauh setiap orang bérkemauan dan berusaha.

Kemauan menyadarkan kita untuk mencapai target dan prestasi. Orang yang berhasil tidak mencapai keberhasilannya dengan diam dan bermimpi, tetapi berusaha. Mereka bangun dan mengatur rencana, mengapa ada keberhasilan dan kegagalan.

Di tengah nilai-nilai persaingan, terutama dalam mencapai cita-cita, keharusan belajar menjadi syarat mutlak. Sebelum kehancuran terjadi, segala sesuatu harus diantisipasi dan ditimbang dalam perhitungan. Menjadi yang terbaik tentu cita-cita setiap orang.

Pentingnya meningkatkan ilmu karena setiap manusia pada dasarnya harus bersaing. Persaingan dimulai dari kompetisi antarsesama. Kemauan meningkatkan kualitas diri berarti bersiap menghadapi senap orang dengan kualitas diri.

Ibarat sebuah benih atau bibit tanaman, seseorang yang tidak belajar berarti membiarkan dirinya tertanam di dalam tanah, tanpa berusaha bagaimana agar ia terjaga dengan suhur. Seseorang yang belajar dengan sendirinya membiarkan diri terpupuk, tersirami, dan terpelihara. Hasil yang diperoleh bila diperbandingkan, tentunya sangat berbeda.

Kita tentunya akan memilih kualitas buah yang ranum dan menyehatkan, bukan sekadar buah yang mengenyangkan. Perlambang tersebut mengacu pada apakah seseorang itu berkemauan atau tidak. Dalam simbol yang lain, seseorang yang belajar tidak herbeda dengan seorang anak yang berasal dari lingkungan keluarga yang baik. Seorang anak yang terasuh akan terbiasa mendengar nilai-nilai dan norma-norma yang diajarkan, berbeda dengan yang tidak terasuh. Yang tidak terasuh akan tumbuh sebagai anak yang mencari pelarian diluar norma-norma yang diterima. Cita-cita dan pencarian yang mungkin dilakukannya tidak akan jauh dari obat dan tawuran.

Pelajar atau orang yang sukses umumnya memiliki kemauan untuk belajar apa pun dan dengan siapa pun. Artinya, mereka tidak berhenti pada kepuasan sesaat, tetapi tetap berusaha. Memandang orang lain sebagai saingan atau lawan akan memberi dampak positif bagi peningkatan potensi diri. Manusia yang enggan membuka buku, majalah, koran atau mendengar nilai-nilai informatif, adalah manusia yang membiarkan dirinya ketinggalan.

Jadi.. Masih malas Belajar ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: