Fungsi dan Bahasa Sastra

Menulis Sastra

Sastra Sebagai Salah Satu Produk Budaya

Banyak orang mengatakan bahwa membaca sastra itu pekerjaan yang tidak bermanfaat atau pekerjaan yang sia-sia saja. Apa gerangan yang menyebabkan mereka beranggapan demikian? Jawabannya bisa bermacam-macam, bergantung dari segi mana kita melihatnya. Dapat dikatakan, antara lain, pembaca itu tidak memiliki “alat penerima”, seperti kemampuan memahami cerita sastra itu sebagaimana yang dimaksudkan dan ingin disampaikan pengarangg. Selain itu, bisa juga anggapan itu muncul karena pembacanya tidak memiliki rasa keindahan untuk menghayati sastra sebagai bagian penting dari hasil kerja budaya. Batin yang tidak tersentuh oleh isi cerita menyebabkan ketiadaan pengertian tentang hidup yang dihadapi manusia. Ketiadaan pemahaman ini tentunya dapat menyeret orang kedalam sifat masa bodoh.

Memang diciptakannya karya sastra bukanlah untuk obat “memanusiakan mamusia” atau mengobati manusia agar memahami tujuan hidup. Akan tetapi, penciptaan karya sastra itu dimaksudkan sebagai “saran” supaya manusia bisa menjenguk ke dalam batin masing-masing sampai sejauh mana jalan yang sudah dit√©mpuh dan pengertian yang sudah tumbuh dalam diri sendiri.

Mungkin ada juga sebab lain yang menimbulkan ketidakpahaman sebagian orang terhadap sastra, seperti sulitnya karya sastra itu dipahami. Pada karya sastra lama, seperti puisi lama (pantun, syair serta bentuk prosa Iainnya), kesuIitan memang tidak begitu banyak ditemukan. Unsur-unsur pembentuknya lebih transparan. Lain haInya dengan sajak-sajak modern. Di samping ada unsur yang transparan, banyak juga unsur yang “tertutup”, seperti perbandingan yang sulit. Sebetulnya sajak lama juga ada yang pemahamannya sulit seperti Syair Perahu karangan Hamzah Fansuri. Namun, tingkat kesulitannya tidak sesulit sajak-sajak sekarang. Disebabkan kesulitan memahami inilah mungkin timbul antipati terhadap sajak modern yang penuh dengan pilihan kata yang sulit-sulit.

Ada pula yang melihat keberulangan tema (apa yang diceritakan) sebagai penyebab kebosanan, seperti umumnya cerita-cerita sinetron. Bisa saja suatu hal diceritakan berulang-ulang karena memang terjadi hal yang sama: orang dulu ada yang putus asa, orang sekarang juga ada yang putus asa; orang dulu banyak yang jahat, orang sekarang juga begitu, bahkan mungkin lebih jahat dan makin tinggi kualitas kejahatannya. Yang penting disini ialah bagaimana menyajikan tema. Di sinilah nilai dan menari tidaknya.

Semula kenangan orang kepada Siti Nurbaya terbatas sekaIi. Namun, sejak cerita itu disajikan dalam bentuk sinetron, banyak anggota masyakat yang tertarik terhadap karya ini. Yang sebelumnya hanya pernah mendengar kemudian ikut menonton. Bahkan banyak komentar mereka sehubungan dengan sikap atau tingkah laku para tokoh. Siti Nurbaya, Syamsul Bahri, dan Datuk Maringgih seolah-olah “bernyawa” lagi!.

Pengangkatan Siti Nurbaya ke dalam bentuk sinetron disusul pula oleh cerita lain yaitu Sengsara Membawa Nikmat dan Salah Asuhan novel-novel yang terbit kemudian pun ada pula yang difilmkan, antara lain Atheis (Ahdiat. Kartamiharja) dam Senja di Jakarta (Mochtiar Lubis).

Melihat penderitaan tokoh-tokoh dalam novel itu ada penonton atau pembaca yang menangis. Ada pula penonton atau pembaca yang mengutuk para tokoh yang jahat dan menyesalkan tokoh-tokoh yang lemah.

Tampaknya kesan yang hendak ditanamkan pada diri pembaca/ penonton ialah agar mereka dapat memahani kehidupannya sendiri dan kehidupan orang Iain. Dengan kata lain, pembaca/ penonton diajak untuk merenungi penderitaan atau kegembiraan orang lain, umpamanya ikut bersedih bila melihat tokoh yang sewenang-wenang, ikut berbelasungkawa dan berserah bila orang lain mendapat musibah, dan ikut bergembira bila orang lain mendapat kesenangan.

Dewasa ini tampaknya banya orang yang tidak bersedia memanusiakan dirinya. Mereka cenderung untuk muncul dengan teknik keserakahan yang makin canggih. Tentunya hal ini hanya dapat kita petik dari karya sastra yang baik dan menyentuh nurani kita.

Kalau begitu sudah siapkah untuk membaca karya sastra ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: