Ketika Senja Akan Tiba

Tubuh rapuh berbalut kulit penuh koreng
Keriput menghuni dahi dan cekungnya tulang pipi yang menjulang menghiasi wajah
Hari demi hari dilalui hanya dengan duduk dipelataran
Memandangi lalu lalang manusia yang tak pernah dikenalnya

Mengeruk mengeruk mengeruk
Memecah memecah memecah
Mendulang mendulang mendulang
Emas, tembaga, minyak
Milik ibu pertiwi

Ingin berteriak, tenggorokan terhalang kapak
Ingin menghujat haknya telah disunat
Terdiam meratapi
Bumi pertiwi dirajah-rajah pencuri

Lapar hilang tak terasa lagi
Menghitung hari dalam penantian ajal
Untuk apa bermimpi lagi
Ketika Senja Akan Tiba
Sepasang tangan renta dan kaki yang letih
Tak mampu mengusir penjajah
Penjajah yang selalu tinggal didalam rumah
Dengan julukan pemerintah

Kenapa kau jual air kepada orang asing
bila aku disini sedang dahaga
Kenapa kau jual harga diri
bila aku disini tak lagi memiliki
Kenapa kau menggadai hidup
bila aku disini berseteru melawan ajal

Lapar sudah tak terasa lagi
Penderitaan sudah tak terasa lagi
Nestapa sudah tak terasa lagi

Andai ajal tidak lamban menjemput
Ga penting lagi melihat orang-orang asing itu
Mengeruk mengeruk mengeruk
Memecah memecah memecah
Mendulang mendulang mendulang
Emas, tembaga, minyak…
dari raga ibupertiwi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: