Aku luka

Aku hanyut dalam sedih ..
Aku larut dalam luka ..
Hatiku teriris dalam pedih ..

Lebih pedih ketimbang peleru menembus dada.
Lebih pahit daripada kecapan empedu.

Bagaimana aku tak hanyut dalam sedih.
Dikala parang dan panah menghadang jemaat.

Dimana kehakikian jati diriku ?
Dimana keeleganan kepribadianku ?

Ketika aku menuntut terlalu banyak dari insan pendengarku.
Sementara aku tak terpikir, apa yang telah kuberi pada mereka.

Ketika aku berlaku untuk mendapatkan semua.
Sementara aku tak terpikir, apa yang dapat kulakukan untuk semua.

Teriknya siang berganti gelapnya malam,
gelapnya malam berganti teriknya siang.
Aku semakin tenggelam dalam rutinitas dan tak mengindahkan Nya

Kudatang tatkala nestapa memangku saja,
Kupergi saat kebahagiaan mengusir nestapa.

“Kabar Baik” teronggok disudut ruang ini,
Lembarannya tak lagi pernah kubuka dan menguning..

Sayup-sayup dentang lonceng bergema mengiringi angelus di kumandangkan,
Meninak bobokkan aku dengan alunan merdunya.
Bagaimana jiwaku tak teriris dan tersayat,
mengenang apa yang kulakukan.

Dada ini sesak menjekat sanubari
Saat kupandang si Miskin papa tenggelam dalam kemiskinannya
Saat kutengok sikaya berfoya-foya menghambur-hambur kekayaannya
Saat Kulirik sirakus politikus menghalalkan segala cara menggendutkan perutnya

Yang cepat, salip-menyalip tanpa kejelasan apa yang direbut
Laksana ikan-ikan berkecipak merebut pelet yang ditebar
Laksana sperma-sperma merebut sang puteri
Semua bersaing, berlari sekencang-kencangnya, menyikut bahkan mendorong dan menginjak

Yang lambat, melangkah tertatih-tatih
Tertimpa-timpa gelimangan jiwa yang lemah
Tersikut, jatuh dan terinjak

Alangkah indahnya bila itu hanya bayang semu yang dapat direnungkan dan diresapi,

Bahwa semua balapan menuju satu titik itu
Akan kembali terjadi kelak, terulang tuk yang kali kedua
Saat manusia menuju satu tujuan yang pasti,
membangunkan sang mentari yang sedang lelap

Saat semua manusia menuju Juru Selamat yang selalu berjaga,
Kita semua berebut inginkan mengumandangkan Syafaat dikerajaan Nya
Mengapa semua yang diberi kesempatan hidup tak mau berlomba hal yang sama?

Di “Sini” kita kapanasan, di “Sana” juga begitu,

Jika sudah begini,
Bagaimana aku tak larut dalam kesedihan mengenang apa yang terjadi.
Meskipun kita semua bisa saja khilaf.
Sehingga lalai, lupa dan jatuh terlelap oleh indahnya angan dan imaji.

Walau diri ini sering terlena dan lalai
Namun diri ini sadar bahwa,
Hidup adalah Lenteranya
Darah adalah bahan bakarnya
Gerak dan rasa adalah sinarnya
Nafsu adalah kehangatannya dan
Amarah adalah asapnya.

Jiwa dan Raga tak ubahnya Arus Listrik dan kabel
Jasmani ibarat untaian kabel yang mengalirkan arus listrik
Sukma ibarat listrik yang membuat lahirnya cahaya
Jika untaian kabel putus maka arus listrik tak mengalir dan lampu menjadi padam.

Itulah diriku.
Bagaimana sedih menggelayut dan kegundahan menggantung dijiwaku.
Jika diri ini seperti lampu padam yang gelap gulita.

Ahh ..
Kini ..
Aku berada didalam alam kepasrahan ..
Hanya satu tujuan yang pasti, hanya kepada Nya ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: