Sinar Purnama

Duduk dekat jendela yang bertabur guguran kelopak bunga,
aku mengambil sebuah kanvas putih polos tuk dilukis.
Entah mengapa ingin sekali kulukiskan semua keberhasilan dan kehormatan,
yang bermekaran dan berjatuhan di tanganku.

Namun apa daya, ku tak menemukan jalan tuk membangkitkan semangatku, yang merindukan kekasihku.
Sehingga jernihnya air mataku membasahi kuas dan kanvas di depanku.

Di dininya fajar oleh suara dingin membeku,
aku terbangun dari tidurku dan mendapatkan diriku dikelilingi kegelapan.

Sendiri menyaksikan cahaya rembulan di kamar ini.
Aku mengkhawatirkan bunga-bunga yang telah ku petik, untuk kekasihku akan segera menjadi layu.

Malam yang panjang digalaksi bimasakti.
Hanyalah sebuah malam tanpa akhir yang mengalir.

Wajah yang dapat kulihat dari tepian sudut mataku.
Walau aku menatap dan terus menatapnya, rasanya hati ini tak kungjung puas.
Sewaktu berdiri di bawah redupnya cahaya rembulan tengah malam.
Bayanganmu memasuki halamanku dan
Keindahannya tertinggal di dalam hatiku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: